Apa yang dimaksud Notoire Feiten Notorious menurut Hukum

gambar

Pasal 184 ayat (2) KUHAP menjelaskan pengertian dari Notoire Feiten Notorious, yang berbunyi sebagai berikut:
“Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan”. Namun Penjelasan Pasal 184 ayat (2) KUHAP tidak menjelaskan secara rinci mengenai apa yang dimaksud dengan “hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan”.
Namun Penjelasan Pasal 184 ayat (2) KUHAP tidak menjelaskan secara rinci mengenai apa yang dimaksud dengan “hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan”.

Yahya Harahap dalam bukunya Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP: Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali (hal. 276), menjelaskan bahwa rumusan Pasal 184 ayat (2) ini selalu disebut dengan istilah notoire feiten notorious (generally known) yang memiliki arti setiap hal yang “sudah umum diketahui” tidak lagi perlu dibuktikan dalam pemeriksaan siding pengadilan.

Yahya Harahap juga membahas mengenai pengertian “hal yang secara umum sudah diketahui” ditinjau dari segi hukum, yang berarti sebuah “perihal” atau “keadaan” atau omstandigheiden atau circumstance, yaitu hal ikhwal atau peristiwa yang diketahui umum bahwa hal tersebut memang sudah demikian hal yang sebenarnya. Atau “sudah semestinya demikian”. Atau bisa juga berarti berupa perihal kenyataan dan pengalaman yang akan selamanya dan selalu akan mengakibatkan “resultan” atau kesimpulan yang demikian, yaitu kesimpulan yang didasarkan pengalaman umum ataupun berdasar pengalaman hakim sendiri bahwa setiap peristiwa dan keadaan yang seperti itu “senantiasa” menimbulkan akibat yang pasti demikian.

Yahya Harahap juga menambahkan, terdapat contoh-contoh mengenai hal diatas. Contohnya api adalah panas, adalah suatu keadaan yang secara umum diketahui oleh setiap orang, dan lazimnya, umum sudah mengetahui, takaran minuman keras tertentu dapat memabukkan. Jika terjadi suatu peristiwa di mana seseorang meminum minuman keras dalam takaran tertentu, resultannya peminum akan mabuk. Dalam hal-hal seperti ini persidangan pengadilan tidak perlu lagi untuk membuktikan, karena keadaan itu dianggap merupakan hal yang secara umum sudah diketahui.

Dalam penerapan notoire feiten notorious, terdapat hal-hal yang perlu untuk diperhatikan:

Majelis Hakim dapat menarik dan mengambilnya sebagai suatu “kenyataan” yang dapat dijadikan sebagai “fakta” tanpa membuktikan lagi; Akan tetapi kenyataan yang diambil hakim dari notoire feiten, “tidak bias berdiri sendiri” membuktikan kesalahan Terdakwa. Tanpa dikuatkan oleh alat bukti yang lain, kenyataan yang ditarik dan diambil hakim dari notoire feiten “tidak cukup” membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada Terdakwa. Bukankah pada hakikatnya notoire feiten tidak tergolong alat-alat bukti yang diakui oleh Pasal 184 ayat (1) KUHAP. Hal ini yang secara umum sudah diketahui hanyalah merupakan penilaian terhadap sesuatu pengalaman dan kenyataan “tertentu saja”. Bukan sesuatu yang dapat membuktikan kesalahan Terdakwa secara menyeluruh.

Dapat disimpulkan bahwa, hal yang secara umum diketahui (notoire feiten) tidak perlu dibuktikan dalam Pasal 184 ayat (2) KUHAP hanya digunakan sebagai penilaian terhadap hal yang secara umum saja dan tidak dapat dijadikan sebagai bukti untuk membuktikan kesalahan Terdakwa karena notoire feiten tidak tergolong sebagai alat bukti.


Hashemi Rafiq SH

Referensi: Yahya Harahap. 2010. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP: Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali. Jakarta: Sinar Grafika.